SMJTimes.com – Di tengah kesuksesan film Agak Laen 2: Menyala Pantiku yang terus menyalip daftar film dengan capaian box office seperti animasi Jumbo pada tahun yang sama, sutradara dan produser Angga Dwimas Sasongko justru mengungkapkan kegelisahannya.
Melansir dari CNN Indonesia, Angga dalam unggahan di media sosial pribadinya pada Kamis (01/01/2026) mengungkapkan perasaannya terhadap capaian yang justru memunculkan sebuah peringatan dini bagi industri perfilman Indonesia.
Menurutnya, 21 juta dari total 120 juta tiket bioskop yang berhasil terjual di sepanjang 2025 ini hanya datang dari dua film, yaitu Agak Laen 2: Menyala Pantiku dan Jumbo.
Hal inilah yang membuat Angga menilai jika peluang film lainnya akan sulit bertahan di bioskop, atau dalam artian win rate dari film tersebut menjadi semakin kecil.
Kemudian, kegelisahan Angga direspon oleh seorang pengamat film Hikmat Darmawan dengan menganggapnya sebagai sebuah suara atas fenomena yang berakar pada masalah yang lebih kompleks dari sekadar kualitas konten.
“Hal ini mengindikasikan masalah lain terkait infrastruktur industri kita saat ini yang menurut saya tidak sehat,” jelas Hikmat Darmawan, dikutip Senin (05/01/2026).
Dalam penjelasannya, Hikmat menyebut jika industri perfilman saat ini bergantung pada sebuah sistem yang terbilang brutal. Begitu banyaknya antrean film yang menginginkan tayang di bioskop terhalang oleh sarana ekshibisi yang masih terbilang terbatas.
“Seperti yang pernah dijelaskan oleh Ernest Prakasa, jika tingkat okupansi di bawah 10 persen, film tersebut akan diturunkan dari layar secara otomatis. Itulah mengapa saya katakan sistem ini bekerja seperti mesin,” ucapnya.
“Bayangkan, hari pertama tayang adalah Kamis. Jika pada hari kedua tingkat okupansinya dianggap tidak memadai, film bisa langsung dicopot,” tambahnya.
Oleh karena itu, Hikmat mengaku jika para produser dan sineas menghalalkan segala cara hanya untuk membuat filmnya tetap bertahan, termasuk dengan membeli tiketnya sendiri demi tidak diturunkan pihak bioskop.
“Menurut saya, ini adalah praktik yang tidak sehat. Antrean film menumpuk, persaingan jatah tayang menjadi brutal, sementara sistem yang ada tidak mampu mengakomodasi banyaknya produksi tersebut,” katanya. (*)











Komentar