SMJTimes.com – Salah satu permainan tradisional yang populer di Indonesia khususnya di kalangan anak-anak adalah congklak. Selain menghibur, congklak juga mengasah keterampilan berhitung dan strategi.
Permainan congklak di Indonesia dipercaya berasal dari wilayah Afrika dan Timur Tengah. Menurut catatan arkeologi, permainan serupa yang dikenal dengan nama mancala telah dimainkan di Mesir sejak tahun 1400 sebelum masehi (SM). Permainan ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah melalui jalur perdagangan, termasuk Asia Tenggara.
Di nusantara, congklak diperkirakan dibawa oleh pedagang Arab atau India pada masa perdagangan maritim antara abad ke-14 hingga ke-17. Permainan ini kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal dengan bentuk papan dan biji yang bervariasi sesuai daerah.
Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan berbeda untuk congklak. Di Jawa, permainan ini disebut “dakon”, sedangkan di Sumatra dikenal sebagai “congklak”. Di Sulawesi, ada variasi permainan yang menggunakan papan dari batang pohon kelapa yang diukir.
Papan congklak biasanya memiliki dua baris lubang kecil (masing-masing tujuh lubang) dan dua lubang besar di ujung papan yang disebut “lumbung”.
Setiap lubang diisi dengan jumlah biji yang sama, umumnya tujuh biji per lubang. Umumnya, biji yang digunakan dalam permainan congklak adalah biji sawo atau biji kerang.
Selain sebagai hiburan, congklak memiliki nilai edukatif dan budaya. Permainan ini melatih konsentrasi, ketelitian, dan perencanaan strategi. Dalam beberapa masyarakat, congklak juga dimainkan pada acara tertentu sebagai bentuk interaksi sosial. (*)











Komentar