Apa Itu Toxic Productivity dan Bagaimana Mengatasinya?

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Produktivitas dikaitkan dengan kemampuan seseorang memanfaatkan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mengeluarkan suatu output/keluaran yang diharapkan. Produktivitas tinggi memberikan kemajuan individu maupun perusahaan perusahaan di masa mendatang.

Namun, hal ini juga bisa menjadi jebakan, dimana seseorang yang terus-menerus ‘aktif’ dapat menurunkan produktivitasnya. Ini disebut dengan toxic productivity, yang mana terlalu banyak pekerjaan dapat menyebabkan kelelahan secara mental dan fisik. Toxic productivity terjadi saat orang memiliki obsesi tidak sehat dan menjadi produktif secara terus menerus. Kondisi ini memberikan perasaan kurang puas dipicu karena rasa takut akan kegagalan.

Seseorang perlu menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan hal-hal di luar pekerjaan. Kesehatan fisik dan mental yang meningkat mampu mempertahankan produktivitas orang tersebut.

Darimana toxic productivity berasal?

Dilansir dari Real Simple, Kruti Quazi yang merupakan konselor klinis berlisensi mengatakan bahwa ekspektasi yang tidak ralistis menjadi salah satu faktor timbulnya toxic productivity. Selain itu, faktor persaingan dan perkembangan teknologi juga memengaruhi.

Perkembangan teknologi memudahkan pekerjaan seseorang dilakukan dimana saja. Ini medorong seseorang untuk ‘going extra miles’ dalam menyelesaikan pekerjaan, baik di rumah, saat makan siang, bahkan saat di dalam taxi online. Teknologi menciptakan gagasan bahwa perangkat-perangkat tersebut membuat lebih banyak hal yang dapat diselesaikan.

“Kami merasa perlu untuk bekerja dengan kecepatan normal dan tidak menciptakan waktu dan ruang untuk menyendiri dan mempraktikkan perawatan diri. Teknologi telah membuat kita percaya bahwa kita dapat terus bekerja dan terobsesi untuk mencapai lebih banyak hal,” kata Quanzi.

Apa dampaknya jika tidak dikendalikan?

Toxic productivity menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Ini juga dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Bekerja secara terus menerus dapat mengganggu waktu istirahat dan tidur kita.

“Kita akhirnya bekerja terlalu keras hingga berdampak pada kesejahteraan fisik dan mental, hubungan, dan waktu tidur kita,” ungkap Quanzi.

Quanzi juga mengatakan bahwa bekerja berlebihan merupakan cara untuk melawan depresi. Cara ini digunakan untuk menutupi perasaan rendah diri, bersalah dan sedih. Sehingga orang akan beranggapan akan lebih baik menyalurkan semua energi dalam pekerjaan.

“[Bekerja berlebihan] mungkin merupakan tanda bahwa kita sedang berjuang melawan depresi yang berfungsi tinggi dengan menutupi perasaan rendah diri, bersalah, sedih, atau berkurangnya energi dan dengan menyalurkan seluruh energi kita ke dalam pekerjaan.”

Lebih lanjut, ia juga mengatakan produktivitas menjadi beracun saat seseorang telah mencampur-adukan pekerjaan dan waktu luang pribadi.

Bagaimana cara mengatasinya?

Kruti Quazi memberikan tips untuk mengatasi toxic productivity. Salah satunya yaitu dengan menetapkan batasan yang jelas antara waktu bekerja dan waktu untuk diri sendiri. Selain itu, ditengah pekerjaan, luangkan waktu 10 menit hingga 15 menit untuk menghirup udara segar, meregangkan kaki, makan dan minum, atau bermain dengan hewan peliharaan. Cara lainnya adalah meninggalkan ponsel saat makan, meditasi, menyisihkan waktu untuk berkumpul dengan pasangan dan keluarga, menetapkan waktu tidur 7 jam sehari dan waktu makan setidaknya 2 kali sehari dengan pilihan makanan yang sehat.

Keseimbangan antara produktivitas di waktu bekerja dan waktu untuk diri Anda sendiri dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik, serta meningkatkan produktivitas itu sendiri. (*)

Komentar