oleh

BPP Gabus Kenalkan Elisitor Biosaka kepada Petani

Berdasarkan temuan yang ada, pembuatan Biosaka harus dengan perasaan yang baik. Pihaknya percaya bahwa akan terjadi komunikasi antar sel tangan dengan sel tumbuhan rumput yang diremas tersebut. Komunikasi tersebutlah yang nantinya akan menentukan berhasil atau tidaknya ramuan Biosaka itu.

Pihaknya mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan dalam pembuatan ramuan tersebut kurang lebih 80 persen.

“Karena ini memang dibuat dari rerumputan segar. Jadi sari dari rumput yang kita remas itu lah yang digunakan. Konon katanya dari ilmuan itu, dari remasan itu jika yang meremas mood-nya sedang tidak baik, maka bisa jadi produk Biosakanya gagal. Jadi memang ada komunikasi antar sel tangan yang digunakan untuk meremas dengan reremputuan itu. Jadi memang perlu ada pelatihan sehingga dengan remasan yang sesuai maka sarinya bisa keluar dan bisa homogen,” imbuhnya.

Baca Juga :   Tunggu Jadwal, Guru Madrasah Siap Jalani Vaksinasi

Diketahui, 1,5 liter Biosaka dapat digunakan untuk 1 hektar lahan sawah. Dosis yang dipakai maksimal 50 mililiter dalam satu tangki. Penggunaannya dengan cara disemprot menggunakan sistem embun.

Ia menyebut 1 genggam rumput yang dibuat Biosaka dapat digunakan untuk 3 hektar sawah. Ia pun menekankan agar penyemprotan Biosaka dilakukan sekali saja, bilamana dilakukan lebih dari sekali akan berpotensi merusak tanaman.

“Biosaka ini adalah elisitor. Bisa juga dikominasikan dengan pupuk kimia maksimal 30 persen. Penyemprotannya dikabut. Sebaiknya disemprot sekali saja,” pungkasnya. (*)

Komentar