oleh

Kasus Stunting di Rembang Melonjak Selama Pandemi

Iapun menyampaikan terimakasih kepada sejumlah pihak yang ke depan akan bersinergi untuk penanganan stunting, baik dari Organisasi Perangkat Daerah selain DKK, lembaga keagamaan, organisasi perempuan dan dunia usaha.

“Supaya memonitor bayi dalam kandungan sampai 2 tahun di luar kandungan diawasi tenaga kesehatan dan lembaga- lembaga keagamaan yang ada di sekitarnya. InsyaAllah melalui kolaborasi ini penanganan stunting ini bisa cepat teratasi, “ujarnya

Abdul Hafidz juga meminta Dinas Kesehatan bisa meningkatkan fasilitas dalam penanganan stunting, baik anggaran maupun yang lain. Sehingga awal dari keberadaan bayi ini kondisinya normal.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Wahyu Setyaningsih sebagai nara sumber mengharapkan butuh peran serta dukungan lintas sektor untuk mengatasi stunting.

Baca Juga :   Sejumlah Siswa di Rembang Jalani Tes Rapid

“Seperti yang saya temukan kemarin, remaja putri di Rembang itu tidak suka disuruh makan ikan. Kalau bentuknya ikan itu, tidak suka. Sehingga OPD terkait, seperti Dinpermades atau tim penggerak PKK membuat makanan olahan-olahan ikan. Supaya protein remaja putri kita cukup baik. Sehingga menurun angka anemia remaja putri dan anemia ibu hamil, bayi BBLR dan bayi stunting,” terangnya

Wahyu menyebutkan balita stunting di Jawa Tengah di bawah, saat ini 20 persen. Harapannya di tahun 2023 kasus stunting bisa ditekan di bawah 14 persen. (Adv)

 

Komentar