oleh

Meningkatnya Permintaan Beras Organik Bisa Jadi Peluang Petani Pati

Pati, SMJTimes.com – Semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat membuat permintaan terhadap produk organik, khususnya beras organik juga ikut meningkat.

Pada dasarnya produk organik adalah produk yang diproses budidayanya tanpa menggunakan pestisida kimia, pupuk sintetis dan bahan kimia lainnya. Proses budidaya beras organik dilakukan dengan menggunakan pupuk organik seperti kompos, pupuk hijau maupun pupuk hayati.

Menjamin bebas pestisida kimia yang membahayakan tubuh manusia, harga beras organik terhitung mahal di pasaran. Sebagai gambaran, bila beras yang ditanam dengan metode konvensional dijual dengan harga Rp9 ribu hingga Rp12 ribu, beras organik bisa dihargai hingga Rp20 ribu.

Baca juga: Video : Wujud Kepedulian Polri, Polres Blora Bagikan Beras ke Warga

Berdasarkan fakta di atas, Menurut Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, hal ini bisa menjadi peluang bagi petani Pati bila mau membudidaya padinya dengan proses organik.

“Tapi di balik tantangan itu tersimpan potensi yang luar biasa terhadap tanaman organik, terutama padi. Tren masyarakat terutama kota besar, kembali ke alam kesadaran masyarakat semakin bagus,” kata Anggota DPRD Pati yang juga politisi di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Senin (22/2/2021)

Kendati demikian, ia tak menampik bila dalam prosesnya, membudidayakan padi organik lebih sulit dibandingkan metode konvensional.

Baca juga: Wujud Kepedulian Polri, Polres Blora Bagikan Beras ke Warga

Sebagai gambarannya, para petani padi organik harus menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam teknis pengembangan pertanian organik.

Para petani memerlukan jumlah pupuk organik yang banyak untuk memenuhi unsur hara tanaman. Pasalnya, kadar hara bahan organik sangat rendah dibandingkan dengan kadar hara yang terkandung dalam pupuk kimia.

Sebelum dijual, beras organik juga diwajibkan memiliki pengakuan sebagai pelaku petani organik melalui proses akreditasi dan sertifikasi. Sayangnya biaya sertifikasi lahan/produk cukup mahal, dan sulit jika dijangkau petani perorangan.

Baca juga: Tanam Padi Organik, Dewan Apresiasi 2 Kelompok Tani di Gabus

Pemasaran beras organik juga tak mudah sehingga membutuhkan pendukung lain seperti kelompok tani, penyuluh, lembaga pemasaran, hingga organisasi perangkat daerah.

“Tantangannya yang jelas dari mental kita sendiri, baik pelaku budidaya dalam hal ini petani maupun sebagai konsumen,” kata Ketua Fraksi Nurani Keadilan Rakyat Indonesia (NKRI) DPRD Pati itu.(Adv)

Baca juga:

Reporter: Moh Anwar

Komentar

News Feed